Kisah Perjalanan Titan Hartono, Peneliti Wanita Muda Lulusan S1 hingga S3 MIT

Massachusetts Institute of Technology (MIT), salah satu kampus bergengsi di Amerika Serikat yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat dunia. Siapa sangka, salah satu wanita asal Cimahi bernama Titan Hartono sukses mengharumkan nama bangsa dengan menyelesaikan studinya dari tingkat sarjana hingga memperoleh gelar doktoral secara berturut-turut di kampus terbaik peringkat satu di dunia berdasarkan QS World University Rankings 2022 ini. Bidang studi yang ditekuninya adalah mechanical engineering.

Perjalanan Titan Hartono berawal dari pencapaiannya dalam memperoleh beasiswa United World Colleges (UWC) National Committee Indonesia untuk menempuh sekolah menengah atas di Negeri Paman Sam. Selepas lulus SMA, wanita yang biasa disapa Titan ini melanjutkan kuliah S1 hingga S3 di MIT. Selama menempuh pendidikan jenjang master dan doktoral, Titan aktif bekerja di lab dan menerima uang bulanan untuk memenuhi biaya hidupnya selama di Cambridge.

Kini, Titan lebih banyak terlibat dalam riset yang berkaitan dengan kombinasi Materials Science atau teknik yang berhubungan dengan material serta Machine Learning atau penggunaan statistik dan analisis data tingkat lanjut untuk membantu mengolah data. Sejak bulan Juni 2021 lalu, wanita berusia 28 tahun ini berprofesi sebagai Postdoctoral Associate di MIT. Kegiatan utamanya adalah riset di bidang photovoltaic (PV), dimana penelitian ini berhubungan dengan mencari material baru untuk sel surya yang bisa mengonversi energi matahari ke energi listrik. Sejak dulu, Titan mengaku memiliki ketertarikan yang tinggi di bidang energi dan perubahan cuaca, sehingga ia tertarik dengan hal yang berhubungan dengan mitigasi perubahan cuaca melalui energi transisi ke energi terbarukan.

Riset ini dilakukannya bersama dengan tim. Meski begitu, ada pula beberapa proyek yang ia pimpin sendiri. Terkadang, ia juga mengambil bagian di proyek yang dipimpin orang lain. Sementara itu, durasi penelitian yang ia lakukan umumnya memakan waktu sekitar satu sampai dengan dua setengah tahun per proyek dari lab. Adapun pendanaan riset ini biasanya berasal dari industri atau dari pemerintah Amerika Serikat. Kecintaan Titan terhadap riset membuatnya ingin melanjutkan penelitian di bidang lain setelah menyelesaikan risetnya sekarang.

Saat ini, Titan berpendapat bahwa riset yang dilakukannya masih agak sulit untuk dikembangkan di Indonesia karena memerlukan peralatan yang spesifik dan tentunya merogoh kocek yang tidak sedikit. “Sulit kalau dikembangkan atau diteliti lebih lanjut di Indonesia, karena butuh tools yang spesifik dan tidak murah. Tetapi mungkin kalau produknya sudah jadi, bisa dites,” ujar Titan.

Selain aktif riset, Titan juga sempat mengikuti magang, penelitian, dan pertukaran pelajar di musim panas. 

“Dulu sempat exchange di University of Cambridge, UK selama setahun waktu tingkat 3. Pernah juga riset di Jerman, lewat program DAAD. Pernah juga summer project di India, dan juga class project di Kolombia,” ucap Titan. Kegiatannya tersebut dituangkannya dalam bentuk tulisan di blognya https://noortitan.wordpress.com/.

Titan sendiri belum pernah melakukan riset di Indonesia. Tapi ia merasa bahwa riset di Amerika sangat mudah dari segi akses ke sumber daya dan jaringan yang dibutuhkan.

“Karena risetku sangat multidisciplinary, sering kali tools atau skill sets yang dibutuhkan dalam satu project tidak tersedia di lab atau kampusku. Tetapi dengan jaringan researchers yang research scientist atau profesorku kenal, aku bisa mendapatkan akses untuk tools dan skill sets tersebut,” tutur Titan.

Ia juga memiliki pengalaman menarik sepanjang penelitiannya. Titan menjelaskan pengalaman favoritnya adalah bekerja bersama kolaborator di lab nasional milik Amerika Serikat, seperti Argonne National Laboratory dan Brookhaven National Laboratory. Bagi Titan, pengalaman risetnya amat berkesan ketika ia berkesempatan menggunakan peralatan di synchrotron atau accelerator di sana, dimana peralatan tersebut jumlahnya sangat sedikit di dunia.

Titan juga mengemukakan beberapa hal yang perlu ditingkatkan dalam dunia riset. “Ada beberapa hal yang perlu dibenahi, tetapi problem-nya di-capture dengan baik di tweet ini: https://twitter.com/pmblipi/status/1411564735888171008, yang ditulis oleh Pak Ahmad Najib Burhani. Bagiku dan sepengamatanku di bidang yang aku tekuni, kita butuh lebih banyak orang yang ingin menjadi peneliti dan insentif untuk menjadi peneliti perlu dinaikkan. Selain itu, perlu diberikan akses yang lebih besar untuk membangun kolaborasi riset, developing their research skills dengan kesempatan untuk lebih banyak interaksi dengan peneliti dari luar negeri, dan juga akses terhadap fasilitas yang dibutuhkan dipermudah (anggaran lebih cepat turun, dan sebagainya). Perlu juga dorongan yang lebih besar untuk tidak sekadar publikasi di jurnal atau prosiding konferensi, tetapi juga fokus terhadap impact riset mereka.”

Penelitian Titan juga dipublikasikan dan dapat diakses oleh khalayak umum melalui website ini https://scholar.google.com/citations?user=eNI2jmsAAAAJ&hl=en&oi=ao.

Di samping riset, bagi wanita muda berhijab ini, hanya satu kekurangannya di Amerika: tidak ada makanan Indonesia, sehingga ia perlu belajar memasak sendiri. Wah meskipun sudah lama menetap di negeri orang, tetap ada hal yang dirindukan dari tanah air.

Pengalaman Titan begitu menarik bukan? Setelah mengetahui cerita Titan, apakah kamu bersemangat hingga termotivasi untuk menempuh studi dan menekuni penelitian pada bidang favorit kamu?